Otoritas.id | Probolinggo – Kreativitas warga di bidang usaha rumahan kembali menunjukkan geliat positif. Salah satunya datang dari kawasan Tajungan, RT 002 RW 008, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, yang dikenal sebagai sentra pembuatan layang-layang musiman.
Usaha tersebut digeluti oleh Rizkie Rachmat Hidayah (31), seorang pria kelahiran 28 Juni 1995 yang kini fokus memproduksi dan menjual layang-layang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal hingga luar daerah.
Bersama sang istri, Husnul Hotimah (31), Rizkie menjalankan usaha rumahan tersebut sambil mengasuh dua orang anak. Kegiatan produksi biasanya meningkat signifikan saat memasuki musim layang-layang.
Dalam sehari, Rizkie mampu memproduksi sekaligus menjual sekitar 20 hingga 50 layang-layang. Produk tersebut umumnya dibeli oleh anak-anak di lingkungan sekitar untuk dimainkan di waktu senggang.
Tak hanya melayani pembeli lokal, pesanan dalam jumlah besar juga datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Beberapa di antaranya berasal dari Lumajang, Jember, Pasuruan, Malang hingga Surabaya.
Untuk pesanan khusus, jumlah produksi bisa mencapai 100 unit dalam sekali pengerjaan, tergantung permintaan konsumen dan tingkat kesulitan desain yang diinginkan.
Harga layang-layang yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp1.000, Rp1.500, Rp2.000 hingga Rp25.000 per buah. Perbedaan harga ditentukan oleh ukuran, bahan, serta tingkat kerumitan dalam proses perakitan.
Selain layang-layang biasa, Rizkie juga memproduksi layang-layang untuk kebutuhan lomba. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan hingga 20 unit layangan lomba dengan harga berkisar antara Rp7.000 hingga Rp25.000.
Tak berhenti di situ, Rizkie juga menyediakan berbagai jenis benang layangan. Untuk benang standar dijual mulai Rp2.000, sementara benang bermerk dengan kualitas lebih tinggi bisa mencapai Rp200.000.
Menurut Rizkie, usaha ini sudah ia tekuni sejak beberapa tahun terakhir dan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya, terutama saat musim layang-layang tiba.
“Alhamdulillah, setiap musim layang-layang permintaan selalu ada. Bahkan kadang sampai kewalahan kalau pesanan dari luar kota datang bersamaan,” ujar Rizkie.
Ia berharap usaha kecil yang dijalaninya dapat terus berkembang dan menjadi peluang ekonomi bagi warga sekitar, sekaligus melestarikan permainan tradisional yang masih diminati anak-anak hingga saat ini. (Septyan)






