Otoritas.id | Probolinggo – Musim hujan bukan sekadar perubahan cuaca yang membawa kesejukan, tetapi juga menjadi periode yang menuntut masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan bencana. Ancaman seperti banjir kiriman, genangan air, pohon tumbang hingga angin kencang perlu diantisipasi melalui kesiapan lingkungan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga keselamatan bersama.
Menghadapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo mengingatkan bahwa upaya mengurangi risiko bencana tidak dapat dilakukan secara mendadak. Persiapan sejak dini menjadi langkah penting agar masyarakat memiliki kemampuan mengenali ancaman, memahami tindakan penyelamatan dan mengetahui jalur pelaporan ketika menghadapi keadaan darurat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, melalui Sekretaris BPBD, Dedy Ristantama, Rabu (04/11/2026), mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kewaspadaan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai, kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana merupakan modal penting dalam membangun ketahanan wilayah menghadapi musim penghujan.
“Keselamatan tidak bisa hanya dipikirkan ketika bencana sudah terjadi. Masyarakat harus memiliki kesiapan dari sekarang, mulai dari memperhatikan kondisi lingkungan, mengetahui potensi bahaya hingga memahami langkah yang harus dilakukan apabila menghadapi keadaan darurat,” ungkap Dedy.
Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah keberadaan pepohonan di lingkungan masyarakat. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan disertai angin kencang, pohon yang sudah rapuh atau memiliki dahan tidak kokoh berpotensi tumbang dan menimbulkan kerugian maupun korban.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dedy mengajak warga lebih peduli terhadap kondisi pohon di sekitar tempat tinggal. Pemangkasan secara berkala perlu dilakukan, khususnya terhadap dahan yang terlalu rimbun, kering atau berpotensi patah ketika diterpa angin kencang.
“Jangan sampai keberadaan pohon yang sebenarnya memberikan manfaat justru menjadi ancaman karena tidak mendapatkan perawatan. Kami mengimbau masyarakat melakukan pemangkasan secara berkala dan memperhatikan pohon-pohon yang berpotensi tumbang, terutama saat memasuki musim hujan,” katanya.
Persoalan lingkungan lainnya yang tidak boleh luput dari perhatian adalah pengelolaan saluran air. Sampah yang menumpuk di selokan dan drainase dapat menghambat aliran air hujan sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya genangan di jalan maupun kawasan permukiman.
Dedy meminta masyarakat tidak menjadikan saluran air sebagai tempat pembuangan sampah. Menurutnya, menjaga drainase tetap bersih merupakan tindakan preventif yang harus dilakukan secara konsisten melalui kepedulian setiap warga, termasuk dengan membiasakan kerja bakti di lingkungan masing-masing.
“Saluran air harus dipastikan dalam kondisi bersih dan tidak tersumbat. Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama membersihkan drainase agar air dapat mengalir dengan lancar. Jangan membuang sampah sembarangan karena dampaknya dapat dirasakan oleh lingkungan dan masyarakat secara luas,” jelasnya.
Di tengah kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, informasi meteorologi juga menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat. BPBD mengingatkan warga agar tidak mengabaikan informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG sebagai dasar untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca ekstrem.
Dedy menjelaskan bahwa masyarakat perlu lebih cermat menentukan aktivitas ketika terdapat potensi hujan lebat, petir maupun angin kencang. Ia juga mengingatkan agar warga tidak berteduh di bawah pohon saat kondisi tersebut berlangsung karena berisiko terkena sambaran petir maupun tertimpa pohon atau ranting yang patah.
Selain memahami perkembangan cuaca, masyarakat perlu mengetahui jenis ancaman yang berpotensi terjadi di wilayah tempat tinggalnya. BPBD meminta warga mengenali kemungkinan banjir kiriman, banjir genangan, pohon tumbang dan angin kencang sehingga dapat melakukan antisipasi sesuai kondisi lingkungan masing-masing.
“Jangan menganggap semua wilayah memiliki potensi ancaman yang sama. Kenali kondisi sekitar tempat tinggal dan perhatikan tanda-tanda yang dapat mengarah pada terjadinya bencana. Semakin cepat masyarakat mengenali bahaya, semakin besar kesempatan untuk melakukan langkah penyelamatan,” ujar Dedy.
Kesiapan menghadapi bencana juga harus dimulai dari lingkungan keluarga. BPBD mengimbau setiap rumah tangga menyediakan tas siaga bencana yang dapat langsung dibawa ketika kondisi mengharuskan penghuni rumah melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman.
Tas tersebut sebaiknya tidak diisi barang-barang yang tidak diperlukan, melainkan perlengkapan dasar yang menunjang kebutuhan selama keadaan darurat. Obat-obatan, air minum, makanan, senter dan dokumen penting menjadi beberapa kebutuhan yang perlu dipersiapkan serta disimpan di tempat mudah dijangkau.
Dedy menegaskan bahwa persiapan tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan. “Kita tidak pernah mengetahui kapan keadaan darurat terjadi. Karena itu, siapkan tas siaga sejak sekarang. Pastikan obat-obatan, air minum, makanan, senter dan dokumen penting sudah tersedia sehingga keluarga lebih siap apabila sewaktu-waktu harus mengungsi,” pesannya.
Tidak kalah penting, setiap keluarga harus memiliki kesepakatan mengenai prosedur penyelamatan. Penentuan jalur evakuasi, titik kumpul dan nomor kontak layanan darurat perlu dibicarakan bersama agar seluruh anggota keluarga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
Menurut Dedy, rencana evakuasi yang jelas dapat membantu menghindari kepanikan dan mempercepat proses penyelamatan. Ia juga meminta keluarga memastikan anak-anak, lansia dan anggota rumah tangga yang membutuhkan bantuan khusus mendapatkan pendampingan apabila harus berpindah menuju lokasi aman.
Dalam situasi bencana, kecepatan informasi menjadi bagian penting dari upaya penanganan. Oleh karena itu, masyarakat Kota Probolinggo diminta memanfaatkan layanan darurat Call Center 112 untuk segera melaporkan kejadian maupun peristiwa bencana yang membutuhkan bantuan dan penanganan petugas.
Dedy mengingatkan agar warga tidak membiarkan kejadian darurat tanpa laporan. Informasi mengenai lokasi, jenis kejadian dan kondisi yang dihadapi perlu disampaikan secara jelas agar petugas memperoleh gambaran awal untuk melakukan koordinasi penanganan.
“Apabila terjadi bencana, segera hubungi dan laporkan kejadian maupun peristiwa tersebut melalui layanan darurat Call Center 112. Jangan menunda laporan, karena informasi yang cepat dan jelas sangat dibutuhkan untuk mendukung penanganan di lapangan,” tegasnya.
Namun, setelah laporan disampaikan, masyarakat tetap harus memperhatikan keselamatan diri dan orang-orang di sekitarnya. Dedy mengimbau warga mengikuti arahan petugas, tidak mendekati lokasi berbahaya serta segera melakukan evakuasi menuju tempat yang aman apabila kondisi mengharuskan untuk meninggalkan lokasi kejadian.
Ia juga mengajak masyarakat tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas kebenarannya ketika terjadi bencana. Warga diharapkan mengutamakan informasi resmi dari petugas dan instansi berwenang agar tidak menimbulkan kepanikan maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Melalui langkah antisipasi tersebut, BPBD Kota Probolinggo ingin mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Kesiapan tidak hanya diukur dari tersedianya sarana penanganan, tetapi juga dari kemampuan warga melakukan pencegahan, mengenali risiko, menyampaikan laporan dan menyelamatkan diri secara tepat.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor penting untuk memperkuat ketangguhan menghadapi musim hujan. Kepedulian terhadap lingkungan, kedisiplinan menjaga kebersihan saluran air serta kesiapan setiap keluarga diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama dalam mengurangi risiko bencana.
BPBD Kota Probolinggo mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menunggu datangnya musibah sebelum melakukan persiapan. Melalui pesan “Siaga Sejak Dini, Kenali Bahayanya, Kurangi Risikonya”, setiap warga diharapkan semakin memahami pentingnya tindakan pencegahan dan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Dengan mengedepankan semangat “Bersama Kita Tangguh, Kota Probolinggo Tangguh Bencana”, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, meningkatkan kewaspadaan dan melindungi keselamatan bersama. Sebab, ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya dibangun melalui penanganan ketika kejadian berlangsung, tetapi dimulai dari kesiapan setiap individu, keluarga dan lingkungan sejak dini. (Septyan)







