Otoritas.id | Probolinggo – Dentuman semangat peserta dan antusiasme warga mewarnai Best Carnival yang digelar di Desa Banyuanyar Tengah, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (22/8/2026). Di tengah beragam kreasi yang ditampilkan, RT 03 Dusun Pandi memilih jalur berbeda dengan menjadikan sejarah lokal sebagai kekuatan utama pertunjukannya.
Mereka membawa konsep yang memadukan parade, seni peran dan drama kolosal untuk menggambarkan cerita mengenai asal-usul terjadinya Banyuanyar.
Konsep tersebut membuat penampilan mereka tidak berhenti pada parade kostum. Setiap peserta memiliki peran yang saling terhubung sehingga membentuk sebuah cerita ketika pertunjukan berlangsung.
Rombongan RT 03 Dusun Pandi memulai perjalanan pada pukul 09.30 WIB. Camat Banyuanyar Hudan Kurniawan menjadi pihak yang melepas keberangkatan rombongan dari titik awal.
Pelepasan turut dihadiri BPD Desa Banyuanyar Tengah, Babinsa, jajaran Polsek Banyuanyar dan Puskesmas Banyuanyar. Kehadiran berbagai unsur tersebut ikut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan masyarakat.
Setelah dilepas, rombongan bergerak mengikuti rute yang telah ditentukan. Ke-14 peserta berjalan menyusuri jalan desa dengan membawa atribut dan perlengkapan yang menunjang karakter masing-masing.
Warga yang berada di sepanjang jalan pun terlihat memperhatikan rombongan. Penampilan para peserta menjadi daya tarik tersendiri sebelum akhirnya mereka tiba di lokasi utama pertunjukan.
Di depan Kantor Balai Desa Banyuanyar Tengah, rombongan menghentikan langkah. Seluruh peserta kemudian mengambil posisi untuk menyuguhkan drama kolosal yang telah dipersiapkan selama beberapa pekan.
Hanya dalam waktu sekitar 10 menit, peserta berusaha merangkum cerita panjang mengenai sejarah terjadinya Banyuanyar. Cerita disampaikan melalui rangkaian adegan yang dibuat cepat, padat dan penuh aksi.
Bagian awal pertunjukan menggambarkan kehidupan masyarakat Banyuanyar pada masa lampau. Suasana kemudian berubah ketika pasukan Belanda diperlihatkan memasuki wilayah masyarakat.
Konflik dimulai ketika pasukan Belanda digambarkan mengambil hasil pertanian milik warga. Hasil tani yang seharusnya menjadi sumber kehidupan masyarakat justru dirampas oleh tentara penjajah.
Tindakan tersebut memancing kemarahan warga. Masyarakat Banyuanyar kemudian bersatu dan memilih melakukan perlawanan.
Adegan pertempuran menjadi titik paling dramatis dalam pertunjukan. Para peserta memperagakan perlawanan dengan koreografi yang dinamis dan penuh tenaga.
Aksi tersebut menggambarkan perjuangan warga yang mempertahankan tanah, kehidupan dan hasil pertanian mereka. Penonton diajak melihat bagaimana masyarakat dalam cerita tersebut tidak menyerah menghadapi pasukan penjajah.
Pertempuran akhirnya dimenangkan masyarakat Banyuanyar. Tentara Belanda berhasil dikalahkan dan hasil pertanian yang sebelumnya dirampas dapat direbut kembali oleh warga.
Klimaks tersebut disambut tepuk tangan penonton. Seluruh peserta kemudian mengakhiri pertunjukan dengan tetap mempertahankan karakter hingga adegan terakhir.
Bagi RT 03 Dusun Pandi, sejarah menjadi alasan utama mengapa konsep tersebut dipilih. Mereka ingin membawa cerita masa lalu keluar dari sekadar cerita lisan dan menghadirkannya dalam bentuk visual yang bisa disaksikan masyarakat secara langsung.
Salah satu peserta, Heri Nurdi, menjelaskan bahwa kisah yang dibawakan berkaitan dengan perjalanan panjang Banyuanyar. Menurutnya, cerita tersebut penting untuk diketahui masyarakat karena menyangkut asal-usul daerah.
“Kami ingin menceritakan bagaimana Banyuanyar pada masa penjajahan Belanda, termasuk pertumpahan darah yang terjadi, sampai masa sebelum pemerintahan Bupati Probolinggo pertama, Kyai Joyolelono,” kata Heri.
Ia menilai perkembangan zaman tidak boleh membuat masyarakat melupakan sejarah lokal. Menurutnya, pengetahuan mengenai asal-usul daerah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga identitas masyarakat Banyuanyar.
Untuk mempersiapkan pertunjukan, para peserta tidak hanya mengandalkan spontanitas. Latihan telah dilakukan sejak H-20 sebelum Best Carnival digelar.
Seluruh peserta berlatih memainkan karakter masing-masing, termasuk gerakan dalam adegan pertempuran. Latihan tersebut dilakukan agar penampilan selama 10 menit dapat berlangsung kompak dan tidak kehilangan alur cerita.
Heri menyebut seluruh peserta berusaha tampil maksimal sejak awal hingga akhir pertunjukan. Energi dan kekompakan menjadi hal yang sangat diperhatikan karena waktu tampil cukup singkat.
“Selama 10 menit kami harus benar-benar maksimal dan energik. Alhamdulillah, hasilnya sesuai dengan yang kami harapkan,” ungkapnya.
Menurut Heri, kepuasan semakin terasa ketika pertunjukan memperoleh respons positif dari pihak yang menyaksikan. Tepuk tangan dari Camat Banyuanyar dan Kepala Desa Banyuanyar Tengah menjadi apresiasi yang membuat peserta semakin bangga.
Ia berharap respons tersebut juga menjadi tanda bahwa pesan yang disampaikan melalui drama dapat diterima masyarakat. Terlebih, tujuan utama penampilan bukan semata-mata mencari hiburan, tetapi memperkenalkan cerita sejarah kepada masyarakat.
“Kami berharap masyarakat bisa memahami legenda dan sejarah terjadinya Banyuanyar. Semoga cerita ini terus dikenal dan tidak hilang di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya.
Penampilan RT 03 Dusun Pandi membuktikan bahwa carnival dapat menjadi ruang kreatif untuk menyatukan hiburan dan edukasi. Sejarah lokal yang dikemas dalam drama kolosal membuat Best Carnival semakin berwarna sekaligus memberikan ruang bagi warga untuk merawat cerita tentang asal-usul daerahnya. (Septyan)







