MAJALENGKA – Sejumlah warga Desa Sukasari Kaler, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, mempertanyakan realisasi dan manfaat program ketahanan pangan tahun 2025 yang disebut menyerap anggaran hingga ratusan juta rupiah.
Program tersebut diketahui berlokasi di Blok Jumat, Desa Sukasari Kaler, dengan kegiatan berupa pembangunan kandang ayam petelur, pengadaan ayam, pakan, serta sarana pendukung lainnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpum, nilai anggaran program ketahanan pangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp Rp 325.264.000
Salah seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku mempertanyakan sejauh mana manfaat program tersebut dapat dirasakan masyarakat.
“Pak coba konfirmasi itu program ketahanan pangan di Desa Sukasari Kaler. Angkanya kan ratusan juta rupiah, saya lihat di salah satu TikTok majalengka.news sekitar Rp325.264.000. Sudah sejauh mana program tersebut bermanfaat untuk masyarakat, karena selama ini masyarakat belum merasakan,” ujar sumber, Kamis (28/5/2026).
Menurut sumber tersebut, warga berharap adanya keterbukaan informasi terkait pengelolaan anggaran, perkembangan program, hingga dampaknya terhadap masyarakat desa.
Sementara itu, Kepala Desa Sukasari Kaler, Sanju, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon menjelaskan bahwa program ketahanan pangan tersebut masih berjalan dan dalam tahap pengawasan.
“Alhamdulillah program ketahanan pangan sudah berjalan dengan baik, alamatnya di Blok Jumat, pengadaan ayam petelur. Karena program ketahanan pangan tersebut tahun 2025 maka program ini masih dalam pengawasan. Program ketahanan pangan itu bukan hanya di desa saya saja, termasuk di desa-desa lain juga ada,” kata Sanju.
Selain itu, melalui pesan WhatsApp, Kepala Desa juga menjelaskan rincian penggunaan anggaran dalam program tersebut.
“Kang itu teh pembuatan kandang, pengadaan batre (baterai kandang), pakan juga gaji pekerja selama 3 bulan serta pengadaan ayam langsung,” tulisnya, Jumat (29/5/2026).
Meski demikian, sejumlah warga berharap pemerintah desa dapat menyampaikan laporan perkembangan program secara terbuka kepada masyarakat agar tidak menimbulkan dugaan maupun spekulasi di tengah publik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan lebih lanjut terkait jumlah produksi telur, mekanisme pengelolaan usaha, maupun kontribusi program tersebut terhadap ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi warga desa. (Red)







