Otoritas.id | Surabaya – Upaya penanganan insiden hilangnya kapal Virgo dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin diperkuat Polri. Korps Bhayangkara menyiagakan personel Disaster Victim Identification (DVI) di sejumlah lokasi di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Kesiapan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila dalam proses penanganan insiden ditemukan korban yang membutuhkan identifikasi. Tim DVI juga dipersiapkan untuk mendukung koordinasi antarpihak selama penanganan berlangsung.
Polri saat ini mengoperasikan lima posko DVI yang tersebar di dua wilayah. Posko-posko tersebut ditempatkan pada lokasi yang berkaitan dengan jalur keberangkatan, tujuan pelayaran, hingga fasilitas kesehatan.
Di Jawa Timur, salah satu posko berada di Sumenep dengan dukungan delapan personel dari jajaran Polda Jawa Timur. Personel tersebut disiagakan untuk menjalankan fungsi DVI sesuai kebutuhan di lapangan.
Posko berikutnya berada di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Sebanyak 20 personel ditempatkan di fasilitas tersebut untuk mendukung proses pemeriksaan dan identifikasi apabila diperlukan.
Sementara itu, delapan personel lainnya ditempatkan di Posko DVI Pelabuhan Tanjung Perak. Lokasi ini menjadi salah satu titik yang dipersiapkan untuk mendukung koordinasi penanganan insiden kapal Virgo.
Penguatan serupa dilakukan di Kalimantan Selatan. Polri menempatkan 20 personel DVI di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Selain di kawasan pelabuhan, personel DVI juga disiapkan di Ruang Otopsi Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Sebanyak 15 personel akan menjalankan tugas sesuai kebutuhan penanganan di lokasi tersebut.
Penempatan personel di dua provinsi itu menunjukkan bahwa Polri menyiapkan dukungan DVI secara berlapis. Langkah tersebut dilakukan agar proses identifikasi dapat segera dilakukan apabila terdapat korban yang berhasil ditemukan.
Polri juga masih menyiapkan tambahan kekuatan dari Tim DVI Rodokpol Pusdokkes Polri. Tim tersebut direncanakan diberangkatkan pada Senin malam, 14 September 2026.
Total terdapat enam personel dalam tim tambahan tersebut. Satu di antaranya merupakan DNA expert, sedangkan lima personel lainnya akan mendukung pelaksanaan tugas tim di lapangan.
Namun, pemberangkatan tim tambahan masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari pimpinan. Mobilisasi personel akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kebutuhan operasi penanganan.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menjelaskan, pengerahan personel DVI merupakan bentuk kesiapan Polri dalam menghadapi kemungkinan ditemukannya korban dari insiden kapal Virgo.
Menurut dia, keberadaan tim DVI di sejumlah titik memungkinkan proses penanganan dilakukan secara lebih terkoordinasi. Polri tidak hanya mempersiapkan personel, tetapi juga memastikan mekanisme identifikasi berjalan sesuai standar yang berlaku.
“Polri melalui tim DVI terus melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung proses penanganan hilangnya kapal Virgo. Personel ditempatkan di sejumlah titik strategis untuk memperkuat koordinasi, penanganan, dan proses identifikasi apabila ditemukan korban,” ujar Johnny, Senin (14/9).
Johnny menambahkan, tim yang telah disiapkan akan bekerja bersama instansi terkait. Koordinasi menjadi salah satu faktor penting agar setiap informasi maupun perkembangan dari lapangan dapat segera ditindaklanjuti.
Dalam pelaksanaannya, proses identifikasi akan mengedepankan ketelitian. Hal itu diperlukan mengingat DVI memiliki prosedur khusus untuk memastikan identitas korban dapat diketahui secara akurat.
“Tim DVI akan bekerja secara profesional, mengedepankan ketelitian dan prosedur identifikasi korban. Polri juga terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar setiap perkembangan dapat ditangani secara cepat dan tepat,” katanya.
Kesiapan personel di lima posko ditambah rencana mobilisasi tim dari Pusdokkes Polri menjadi bagian dari respons kepolisian terhadap insiden tersebut. Polri memastikan seluruh dukungan akan diarahkan untuk membantu proses penanganan sesuai kondisi dan perkembangan terbaru di lapangan.
Dengan pola penempatan personel di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, koordinasi penanganan diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Tim DVI pun berada dalam posisi siap bergerak apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melakukan proses identifikasi korban. (septyan)







